Tumbal Toko Bangunan: Rahasia Kelam Juragan Ambar dan Para Sopir Lereng Kawi
Bagi masyarakat Kota M, nama Toko Bangunan "Setya Abadi" adalah simbol kesuksesan yang tidak masuk akal. Pemiliknya, Nyai Ambarwati—atau biasa dipanggil Juragan Ambar—adalah seorang janda kembang berusia kepala empat yang kecantikannya seolah menolak tua. Kulitnya kuning langsat bersih, tutur katanya halus, dan hartanya melimpah ruah. Toko bangunannya tidak pernah sepi. Puluhan truk bak besar hilir mudik setiap hari mengantar semen, besi, dan bata ke berbagai proyek raksasa.
Namun, di balik deru mesin truk dan tumpukan semen yang berdebu, ada aroma anyir yang tertutup rapat.
Orang-orang hanya berani berbisik-bisik di warung kopi tentang satu keanehan mutlak di toko itu: Sopir truk Juragan Ambar selalu berganti setiap tahun, dan mereka semua berwajah tampan. Bukan karena dipecat. Tetapi karena mereka semua berakhir di dalam keranda mayat.
Titik Balik di Lereng Kawi
Sepuluh tahun lalu, Ambar bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang istri yang hancur setelah suaminya kabur meninggalkan utang miliaran rupiah akibat judi. Di ambang keputusasaan, dengan sisa uang tabungan terakhirnya, Ambar nekat pergi ke lereng Gunung Kawi. Bukan ke kompleks pesarean yang ramai dikunjungi peziarah berbaju putih, melainkan jauh ke atas, menembus hutan pinus yang dingin dan gelap, menuju sebuah petilasan terpencil yang tidak tercatat di peta wisata.
Di sana, di bawah remang asap kemenyan yang pekat, Ambar menemui seorang juru kunci bermata juling. Perjanjian darah disepakati.
"Kekayaanmu tidak akan datang dari langit, Ambar," bisik sang dukun, suaranya parau seperti gesekan bambu kering. "Kamulah wadahnya. Kamu harus membuka usaha yang menghancurkan dan membangun secara terus-menerus. Bukalah toko bangunan."
Ambar mengangguk cepat. "Apa pun syaratnya, Mbah. Saya mau kaya."
Dukun itu tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "Setiap malam satu Suro, kamu harus mendaki kembali ke tempat ini. Bawalah emas murni seberat satu kilogram sebagai upah awal bagi Sang Penguasa. Dan ingat... emas itu tidak boleh dibeli dari hasil keringat biasa. Itu adalah harga dari energi kehidupan yang kamu serap."
Ambar mengerutkan kening. "Menyerap energi? Maksud Mbah?"
"Sang Penguasa menyukai jiwa pria muda yang kuat. Kamu harus mengikat mereka lewat syahwat. Jadikan mereka sopirmu, tiduri mereka, runtuhkan benteng ruhaninya di atas ranjangmu. Setelah setahun, ketika energi mereka habis terkuras, Sang Penguasa akan menjemput mereka di jalan raya. Itu adalah tumbalmu."
Ritual Kamar Belakang dan Aroma Melati Anyir
Satu tahun setelah toko bangunan itu berdiri, Ambar langsung bertransformasi menjadi miliarder baru. Uang mengalir seperti air bah. Namun, syarat gaib itu mengikatnya tanpa ampun.
Sopir pertama bernama Joko, seorang pemuda desa bertubuh kekar berusia 23 tahun. Joko awalnya bangga bisa bekerja dengan Juragan Ambar yang cantik jelita. Kebanggaan itu berubah menjadi kepuasan ketika pada suatu malam, Ambar memanggilnya ke kamar pribadi di belakang toko dengan alasan meminta bantuan memperbaiki atap yang bocor.
Di kamar yang selalu berbau perpaduan bunga melati dan minyak mistis yang menyengat itu, Joko jatuh ke dalam pelukan Ambar. Malam itu menjadi awal dari perselingkuhan rahasia mereka. Setiap kali pulang larut malam dari mengantar material, Joko selalu berakhir di ranjang Ambar.
Namun, Joko tidak sadar bahwa setiap kali mereka berhubungan badan, Ambar selalu merapalkan mantra Kejawen kuno di dalam hatinya. Di bawah ranjang jati yang megah itu, tertanam sebuah kotak kayu berisi tanah kuburan yang dikirim langsung dari lereng Kawi.
Memasuki bulan kesepuluh, fisik Joko mulai berubah secara drastis. Pemuda yang tadinya bugar itu perlahan mengurus. Tatapan matanya kosong, kulitnya pucat, dan ia sering mengeluh bermimpi dikejar oleh sosok anjing hitam bermata merah raksasa yang mencoba menggigit lehernya.
"Juragan... saya merasa seperti ada yang selalu berdiri di belakang saya," keluh Joko suatu sore dengan bibir gemetar.
Ambar hanya tersenyum manis, membelai pipi Joko yang dingin. "Itu hanya kelelahan, Joko. Nanti malam, datanglah lagi ke kamarku. Aku punya jamu khusus untukmu." Jamu itu adalah air doa yang sudah dicampur dengan abu dupa pesugihan.
Tepat pada malam satu Suro, truk yang dikemudikan Joko mengalami kecelakaan tunggal. Truknya menabrak tebing batu di jalur cadas tanpa bekas rem sedikit pun. Tubuh Joko terjepit kemudi, tewas seketika dengan mata melotot ketakutan.
Anehnya, di malam yang sama, Ambar sedang tersenyum puas di dalam kamarnya. Di atas mejanya, telah tersedia satu kotak kayu berisi emas batangan seberat satu kilogram murni—hasil dari konversi gaib nyawa Joko yang telah diambil. Malam itu juga, Ambar berangkat ke Gunung Kawi untuk mempersembahkan emas tersebut kepada "majikan" tak kasat matanya.Teror Sopir KelimaTahun demi tahun berlalu. Pola itu terus berulang. Sopir kedua, ketiga, dan keempat semuanya mati dengan cara yang sama: berselingkuh dengan Ambar, mengering energinya, lalu tewas dalam kecelakaan truk material yang mengerikan. Setiap kematian mereka selalu menghasilkan emas satu kilo untuk dibawa ke Gunung Kawi. Masyarakat mulai curiga, namun pesona kekayaan dan pengaruh Ambar mampu membungkam segala desas-desus.Sampai akhirnya datanglah Danu, sopir kelima. Danu adalah mantan mahasiswa yang putus kuliah karena tidak ada biaya. Berbeda dengan sopir-sopir sebelumnya yang silau oleh kecantikan dan uang Ambar, Danu adalah pemuda yang rajin beribadah dan selalu mengenakan kalung ayat kursi pemberian ibunya di desa.Ambar mulai melancarkan aksinya. Pada bulan ketiga, Danu berhasil ditarik ke dalam kamarnya melalui tipu daya. Hubungan terlarang itu pun terjadi. Namun, ada yang aneh kali ini. Setiap kali selesai berhubungan dengan Danu, Ambar justru merasa tubuhnya sendiri yang melepuh panas, seolah ia baru saja menyentuh bara api.Memasuki bulan kedelapan, Danu tidak kunjung kurus. Benteng spiritual Danu terlalu kuat karena doa ibunya yang tidak pernah putus di desa. Sang Penguasa Gunung Kawi mulai murka. Ambar mulai mendapatkan teror di dalam mimpinya. Sosok hitam raksasa itu datang, mencakar wajah Ambar hingga ia terbangun dengan jeritan histeris dan menemukan pipinya benar-benar mengeluarkan darah nyata. "MANA UPAHKU, AMBAR?! JIWA PEMUDA INI MENOLAK DITARIK! JIKA BULAN DEPAN DIA TIDAK MATI, NYAWAMU DAN SELURUH HARTAMU YANG AKAN MENJADI GANTI!"Suara gaib itu menggema di kepala Ambar setiap jam 3 malam.Senjata Makan TuanAmbar panik. Waktu menuju malam satu Suro tinggal menghitung hari, dan ia belum bisa menghasilkan emas satu kilo karena Danu masih sehat bugar. Kecelakaan yang coba direkayasa Ambar—mulai dari menyabotase rem truk Danu hingga mengirimkan santet penyakit—selalu gagal. Danu selalu selamat secara ajaib.Dalam keputusasaan yang mendalam, ego Ambar runtuh. Ia tidak bisa mengorbankan nyawanya sendiri.Malam itu, tepat malam satu Suro, hujan lebat mengguyur Kota M. Ambar memanggil Danu ke gudang belakang toko bangunan yang gelap gulita. Di sana, Ambar berniat menghabisi Danu secara fisik menggunakan bilah kapak besi yang biasa digunakan untuk memotong kayu proyek. Di dunia nyata, delusi pesugihannya telah mengubah Ambar menjadi seorang psikopat. "Danu... ambilkan semen di pojok itu," perintah Ambar dengan suara bergetar, tangannya menyembunyikan kapak di balik kain jariknya.Saat Danu berbalik membelakanginya, Ambar mengangkat kapak itu tinggi-tinggi. Namun, tepat sebelum kapak itu mengenai leher Danu, kilat menyambar sangat keras di luar hingga meruntuhkan atap kaca gudang tersebut.Puing-puing besi dan beton atap seberat ratusan kilogram runtuh menimpa tubuh Ambar. Danu terlonjak kaget dan berbalik. Ia mendapati majikannya sudah terkapar di lantai gudang, tertindih tiang beton bangunan miliknya sendiri. Darah segar mengalir dari kepala Ambar, membasahi lantai semen yang berdebu.Dalam sekaratnya, pandangan mata Ambar mulai kabur. Namun, ia tidak melihat Danu yang panik mencoba menolongnya. Di belakang Danu, Ambar melihat sosok makhluk berwajah anjing hitam raksasa dengan taring panjang yang melangkah keluar dari bayangan kegelapan gudang.Makhluk itu tidak menyentuh Danu. Ia melangkah melewati Danu dan langsung mencengkeram dada Ambar yang remuk."KONTRAKMAU BATAL, AMBAR. KAMU TIDAK BISA MEMBERIKAN EMAS ITU. SEKARANG, KAMULAH EMAS SATU KILOKU!"Ambar mencoba berteriak, namun tenggorokannya tersumbat darah. Jiwanya ditarik paksa secara mengerikan sebelum jasad fisiknya benar-benar berhenti bernapas.Keesokan harinya, Toko Bangunan "Setya Abadi" dipasang garis polisi. Juragan Ambar dinyatakan tewas akibat kecelakaan kerja tertimpa material bangunannya sendiri. Dan yang paling mengejutkan, ketika polisi menggeledah kamar rahasia di belakang toko, mereka tidak menemukan tumpukan uang atau perhiasan. Semua lemari besi Ambar hanya berisi batangan kuningan sari palsu dan tumpukan tanah kuburan yang kering dan berbau busuk.Nyai Ambar telah habis, menyusul para sopirnya menjadi budak abadi di kegelapan lereng Kawi.Bagikan cerita ini jika membuatmu merinding!BAGIKAN CERITA